Category: Curah Pikir Page 1 of 2

Konspirasi Alam Semesta

Kata Om Paulo, jika kamu menginginkan sesuatu, alam semesta akan berkonspirasi membantumu untuk meraihnya. Kalau kamu belum merasakan bantuan itu, berarti masih ada keraguan dalam kemauanmu.
Peraihan atau pencapaian sesuatu kadang langsung dan mudah. Tapi lebih sering harus berputar jauh, lama, sulit, melelahkan, mengundang kesal dan amarah, bahkan keputusasaan.


Mimpi adalah target yang selalu bergerak. Kamu dekati, mungkin dia akan menjauh. Kamu coba jauhi, dia akan tetap bersemayam di hatimu. Dengarkan kata hatimu, dan kejarlah mimpi itu. Mimpi itu ada, dan itu milikmu.

The Best of All Possible Worlds

Kata Kakek Voltaire, ini adalah yang terbaik dari semua kemungkinan dunia. Kita harus selalu optimis, tegar menjaga bahwa setiap hal adalah yang terbaik, walaupun di awal (mungkin) kita menganggapnya itu yang terburuk.

Saya jadi ingat dulu. Pulang dari Negeri Sakura selesai sekolah, merelakan tawaran izin tinggal tetap, apartemen yang nyaman, gaji yang tinggi dan berbagai kesempatan yang enjoy-able. Saya memilih menunaikan muamalat saya dengan Negara yang telah menyekolahkan saya.

Pulang ke tanah air, kos di Ibukota di kawasan seberang kantor, di sebuah bilik berdinding triplek berjendela ram kawat kandang ayam di lantai 2. Kamar mandi ada di lantai 1, hanya toilet jongkok dan 1 ember berukuran sedang. Setiap pagi pergi dan malam pulang kerja melewati gang sempit diapit comberan bau di kiri dan di kanan. Kalau kebetulan hari hujan dan gang itu banjir, saya kadang harus merayap seperti seorang spideman, melebarkan kedua kaki dan tangan saya berjalan di dinding-dinding rumah orang yang berada di kiri dan kanan gang sempit itu. Comberan bisa saya hindari namun baunya apa daya.

Saya sempat mengutuk. Pilihan buruk apa yang telah saya ambil, menolak tawaran menggiurkan setelah sekolah bertahun dan meraih gelar tinggi. Namun kemudian saya sadar bahwa itu adalah kemurahan Tuhan, yang menyelamatkan saya dari duri, beling atau paku berkarat yang mungkin saya injak di jalan lain yang bagus dan bebas bau. Itu adalah kemurahan Tuhan yang merelakan saya terhindar dari ujian yang mungkin tak sanggup saya pikul.

Saya mempelajari bahwa semua yang terjadi adalah anugerah, kalau saja kita mampu mensyukurinya. Dan semua yang terjadi mungkin kutukan kalau kita hanya menyerapahinya.

Flow Like a River

Having a dream is like following a river current. We may hit a stone wall and get stuck in a moment like we can’t get out of it. The stuck we get is there for a reason. It may let us have a break to reflect on ourselves or to have ourselves around to recover our integrity, so we can continue this journey of our life –like a river flows surely to the sea.

Lagi-lagi tentang Perubahan

Perubahan adalah salah satu hukum dasar alam. Tidak ada yang tetap, kecuali perubahan itu sendiri. Dampak perubahan berlainan kepada setiap individu atau institusi, bisa favorable, adem dan menyenangkan, bisa juga overheating, gerah dan bahkan mungkin detrimental.

Fokus pada dunia persaingan ekonomi, perubahan di sana sangat hebat, bahkan brutal. Tidak ada kata “belas kasihan” dalam kamus persaingan ekonomi. Semua tentang rantai makanan, rantai pertumbuhan. Yang bisa menyesuaikan diri dengan perubahan akan tumbuh, dan yang tidak, billahi taufiq wal hidayah, wassalaam.

According to Darwin’s Origin of Species, it is not the most intellectual of the species that survives; it is not the strongest that survives, but the species that survives is the one that is able best to adapt and adjust to the changing environment in which it finds itself.

Leon C. Megginson, ‘Lessons from Europe for American Business’, Southwestern Social Science Quarterly (1963) 44(1): 3-13, at p. 4.

Dulu kerajaan-kerajan ekonomi dikuasai perusahaan migas, sekarang berdasarkan nilai pasar (market value), dunia ekonomi dikuasai perusahaan teknologi informasi. Dan para penguasa ini bersaing sangat dahsyat. Dulu Yahoo Messenger menempati “hati” banyak orang, sekarang semua “lari” bersama WhatsApp. Dulu Nokia dalam genggaman tangan banyak orang, beberapa tahun lalu CEOnya menangis, “We did not do anything wrong, but somehow, we lost.” sesaat sebelum mobile and device divisionnya Nokia ditelan Microsoft.


Nothing has ever built to last. One falls another rises. Kalau perubahan adalah hukum dasar alam, maka adaptasi adalah hukum dasar hidup. Yang bisa beradaptasi dan mengelola perubahan dengan baik dia akan bertahan dan tumbuh. Perubahan sering kali tidak diharapkan, tetapi tidak juga untuk dikeluhkan. Perubahan sering kali diibaratkan angin atau gelombang. Perubahan itu untuk dikelola. Seperti seorang pelaut yang selalu mengatur layar perahunya menyesuaikan dengan angin, atau peselancar yang memainkan papannya di atas gelombang. Perubahan harus dikelola agar kita tetap menuju destinasi kita atau agar kita tetap bisa menari bahagia bersama gelombang kehidupan kita.

SEMESTA PERUBAHAN

Kita hidup dalam semesta perubahan. Semuanya berubah, tidak ada yang kekal kecuali perubahan itu sendiri. Panta rhei kata Heraclitus, ―semuanya mengalir.

Perubahan sering kali diibaratkan sebagai hembusan angin, ―tidak selalu favorable atau berpihak. Kadang seperti melawan kita. Ketika hembusan angin tidak berpihak: Mereka yang pesimis akan mengeluhkannya. But whining won’t change it, only make it worse. Mereka yang optimis akan berharap angin berubah arah. But wishing won’t make it so. Mereka yang realis akan menyesuaikan layar dengan angin. Mungkin perlahan. Tapi mereka akan upayakan bahtera tetap menuju destinasi.

Bagi orang aerodinamis, kalau angin melawan wahana atau headwind, itu adalah kesempatan untuk meningkatkan gaya angkat, untuk lepas landas atau untuk terbang lebih tinggi lagi.

Semoga keluarga Hikari merupakan keluarga yang selalu dapat menyikapi perubahan dengan baik. Karena katanya, mereka yang bertahan bukanlah mereka yang paling cerdas, paling kuat, paling cantik atau paling tampan, melainkan mereka yang memiliki watak (karakter), mereka yang dapat menyikapi perubahan dengan baik.

Keluarga Hikari akan selalu semangat, selalu semarak menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran, menyiapkan generasi penerus berwatak mulia dan berpengetahuan dasar yang kokoh, generasi yang bisa menyikapi perubahan dengan baik.

10 hari menuju Ulang Tahun RI ke 74, SDM Unggul Indonesia Maju.

Nature Does not Hurry

There are many things in life that need more time than other things else. Time to grow, time to mature and time to get wise.

Nature does not hurry, yet everything is accomplished.

LAO TZU

From time to time, we need to learn the art of patience, to let life follow its natural course. Forcing or resisting the natural flow of things will cause internal incoherence and will invite external interference. The unnecessary pain then will inevitably come to us and may suffer the people we love.

May patience always be with us and the true force as well.

Great Nations Do Great Things

What makes a nation great? Is it economic wealth? Or military super power across sea, land and air? Or is it the number of Nobel Peace Prizes or Olympic medals?

A nation is nothing more than a collection of people living within a set of physical borders. We can measure the greatness of a nation by seeing the people live there.

What makes people great then? Well, I think it’s not how much money they can make, nor the number of cars or houses they own. But what contributions they have made to their community, to their society. It’s about their generosity. It’s about their ideas, how they changed the world with them, how they made a difference, how they have made profits for the human race, for the next generation.

Have we even tried to make any differences? How hard did we try?

Our ancestors have made many great architecture monuments which we are — as their descendants– able to make many benefits from them. Tourism and its domino effect such as transportation, food industries, lodging, you name it.

Now, what our generation has made that we can offer to our children? Depletion of many natural resources? air and water pollution? Foreign debts?

Ya Rabb, lead us to keep our integrity intact so we can make a difference, make a meaningful contribution and elevate human society to a higher level of coexistence and civilization.

Pengetahuan itu Penting, Tetapi Watak Lebih Penting

Kennis is macht, karakter is meer.
(Knowledge is power, but character is more.)

anonymous

Orang orang bestari dahulu memberikan nasehat:

Berpikirlah yang baik, karena itu akan menjadi perkataanmu.
Berkatalah yang baik, karena itu akan menjadi perilakumu.
Berperilakulah yang baik, karena itu akan menjadi kebiasaanmu.
Peliharalah kebiasaan yang baik, karena itu akan menjadi watakmu.
Milikilah watak yang baik, karena itu membentuk nasibmu.

Untaian kalimat di atas sering diatributkan sebagai perkataan Ralph Waldo Emerson, Lao Tzu, Frank Outlaw, Gautama Buddha, atau Ayahnya Margaret Thatcher. Terlepas siapa yang mengatakan pertama kali sebenarnya. Perkataan itu sangat baik, dan layak untuk dibagikan. Seorang ahli falsafah Yunani, Heraclitus, sebelumnya telah merangkum tulisan di atas secara sederhana, “man’s character is his fate,” (watak seseorang itu, itulah nasibnya).

Watak, atau karakter akan membentuk nasib seseorang secara individu, dan watak pulalah yang menentukan nasib suatu kaum atau masyarakat.

Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka.

QS:13:11

Apabila kita lirik sedikit sejarah, kita tahu begitu banyak peradaban super hebat pada zaman baheula. Mereka bangkit dan runtuh, mereka tidak pernah abadi. Kebanyakan mereka runtuh bukan karena serangan lawan atau ditaklukan musuh secara tiba-tiba. Mereka runtuh karena kerusakan moral dari dalam, perlahan, senyap dan mungkin kurang disadari. Dari perspektif kebangsaan, seorang negarawan Romawi Kuno, Cicero, mengatakan bahwa “within the character of the citizen, lies the welfare of nations,” (Dalam lingkup watak warganegaranya, terletak kesejahteraan suatu bangsa).

Lalu apa watak itu? Watak adalah satu set qualitas sifat kita, seperti kejujuran, kerendahan hati, keberanian, tanggung jawab, keramahan, determinasi ketika menghadapi kesukaran. Watak di sini adalah moral, akhlak, budi pekerti. Nilai-nilai inilah yang perlu ditanamkan pada anak-anak kita, perlu diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bukan nilai A atau 100 untuk suatu bidang ilmu. Karena wataklah kelak yang akan membuat setiap individu mampu memanfaatkan potensinya, mampu mengatasi kekurangannya dan mampu bertahan dalam setiap perubahan.

Dan ingatlah selalu, bahwa Tuhan menurunkan Rosul di setiap jamannya dahulu lebih ke membangun watak dan menyempurnakan akhlak, daripada membangun kepintaran atau yang lainnya. Nabi Musa AS dengan integritasnya, Nabi Ibrahim As dengan komitmennya, Nabi Isa AS dengan kasih sayang dan empatinya, Nabi Muhammad SAW dengan kejujuran dan integritasnya dst.

Berdoa untuk Kemudahan? atau Kekuatan?

April telah tiba. Tahun 2015 pun sudah berlari ¼ perjalanan lebih. Ada yang galau dengan UN, ada yang ragu dengan jabatan baru. Tapi itulah mungkin pahit manis kehidupan. Kita harus mengetahui yang pahit, agar kita bisa mensyukuri yang manis.

Hidup tidak lebih dari serangkaian ujian, seorang sahabat mengingatkan. Dari ujian yang satu ke ujian berikutnya, begitulah kita meniti hari merajut waktu. Hasilnya mungkin kita bisa nikmati semasa hidup kita, mungkin juga dirapel di “sana” setelah kita meninggalkan dunia fana ini. Hidup ini boleh dibilang lebih banyak pahitnya dari pada manisnya. Simaklah kisah para rosul dan sahabat-sahabatnya, atau para kreator di jamannya, mulai dari komposer sampai ke pelukis ternama, dari ilmuwan hingga ke inventor. Jasa jasa mereka itu kadang baru disyukuri oleh yang lain setelah mereka tiada. “Life is unfair, get used to it,” bahkan seorang Bill Gates pun mengatakan demikian.

Ketika kita menghadapi masa-masa sulit menghadapi ujian atau suatu urusan. Seringkali kita memohon dukungan doa kepada kerabat kepada sahabat. Banyak di antara kita memohon doa untuk kemudahan. “Mohon doanya diberi kemudahan,” atau “Mohon doanya agar urusannya lancar,”. Kita kadang lupa kisah-kisah di atas tadi. Bahwa hasil, prestasi, kebahagian atau pencapaian apapun yang berarti yang bernilai itu seringkali berada di tempat yang sulit dijangkau yang harus ditebus dengan berbagai pengorbanan termasuk fisik, mental, tak jarang juga air mata harus berderai bahkan darah harus menetes.

Ketika saya menghadapi masa-masa sulit atau menempuh berbagai ujian, saya selalu memohon doa keluarga dan sahabat untuk saya—bukan untuk urusan atau ujiannya—agar saya diberi kekuatan menghadapi berbagai kesulitan. Sehingga saya menjadi lebih kuat lebih tangguh pada setiap akhir ujian itu.

Begitu juga ketika seseorang meminta saya doa seperti tadi. Saya selalu katakan, “Saya doakan engkau memiliki kekuatan sehingga bisa menghadapi mengatasi ujian itu, walapun sebagaimana sulitnya”. Saya tidak berdoa untuk kemudahan ujiannya atau urusannya. Saya lebih mendoakan orang yang menghadapi ujian itu.

Saya percaya bukan kemudahan yang menempa kita menjadi individu yang kuat sehingga bisa meraih suatu pencapaian yang bernilai, tetapi justru berbagai kesulitan dalam setiap ujian, seperti halnya besi ditempa menjadi baja yang kuat, itu perlu pukulan yang cukup keras dan panas.

Giving up doesn’t always mean you are weak, sometimes it means that you are strong enough to let go

Change is never easy. You fight to hold on. You fight to let go.

THE WONDER YEARS

Dalam perjalanan hidup, kita meraih sesuatu, mencintai sesuatu dan kehilangan sesuatu. Seorang anak mungkin harus ikhlas menyerah akan mimpinya menjadi pemain bola karena berbagai alasan, walaupun dia sudah investasikan waktu dan tabungannya. Seorang remaja mungkin harus putus dengan pacarnya karena berbagai alasan pula. Seorang pelajar muda mungkin harus menyerah masuk jurusan yang dia inginkan begitu hebat di perguruan tingginya, tentu dengan berbagai alasan pula.

Kebanyakan celoteh, saran, tulisan, artikel maupun buku tentang motivasi kehidupan seringkali menyuarakan bahwa kita harus bertahan, hold on, keep fightingnever give up atau apapun yang senada. Jarang sekali saya menemukan kalimat yang mengajarkan kita bagaimana caranya untuk “menyerah/mengalah/melepaskan/mengundurkan diri dengan baik,”. (Bagi mereka yang berlebaran mungkin Al-Baqarah:216 cukup menjadi pedoman)

Salah dua dari sekian jarang buku yang memperkenalkan bagaimana cara mengalah atau mundur tersebut adalah buku “Integrity” nya Henry Cloud dan “The Last Lecture”nya Randy Pausch.

Dalam bukunya Dr. Cloud bercerita bahwa dia pernah menjadi konsultan sebuah perusahaan yang merugi jutaan dolar akibat sang direktur secara emosional tidak mampu melepaskan sebuah agenda perusahaan yang betul-betul mentok alias buntu. Karena ketidakmampuan sang direktur untuk mengalah ini, dia telah mengantarkan perusahaannya jatuh mendekati kehancuran. Sang direktur memiliki integritas yang baik, dia juga dikenal sebagai seorang yang jujur. Tetapi dia juga tidak mampu menghadapi kenyataan bahwa dia harus kehilangan sesuatu yang telah dia invest. Padahal setiap pemimpin dari waktu ke waktu harus mampu mengalah atau mundur selangkah untuk melakukan regroup, recover dan meraih sukses.

Sedangkan Dr. Pausch dalam bukunya menulis, “Dengar, saya akan menemukan cara untuk bahagia, dan saya sangat senang kalau saya bisa berbahagia bersama mu, tetapi kalau saya tidak bisa berbahagia dengan mu, maka saya akan menemukan cara untuk berbahagia tanpa mu.” .

Kapan kita harus mundur atau mengalah, kapan juga kita harus tetap bertahan –seperti seorang keras kepala atau mungkin lembam tak berdaya– memang merupakan sebuah fungsi dengan variabel waktu dan keadaan. Tidak serta merta setiap menemukan kesulitan kita harus segera menyerah. Kata orang jepang “akinai san nen”, arti harfiahnya urusan itu tiga tahun baru terlihat kecenderungannya. Segala sesuatu itu perlu waktu. Tetapi sekali lagi bukan tanpa batas.

Terakhir ijinkan saya menutup celoteh ini dengan:

Some of us think holding on makes us strong, but sometimes it is letting go.

HERMAN HESSE

Page 1 of 2

SEMARAK FOUNDATION