SEMESTA PERUBAHAN

Kita hidup dalam semesta perubahan. Semuanya berubah, tidak ada yang kekal kecuali perubahan itu sendiri. Panta rhei kata Heraclitus, ―semuanya mengalir.

Perubahan sering kali diibaratkan sebagai hembusan angin, ―tidak selalu favorable atau berpihak. Kadang seperti melawan kita. Ketika hembusan angin tidak berpihak: Mereka yang pesimis akan mengeluhkannya. But whining won’t change it, only make it worse. Mereka yang optimis akan berharap angin berubah arah. But wishing won’t make it so. Mereka yang realis akan menyesuaikan layar dengan angin. Mungkin perlahan. Tapi mereka akan upayakan bahtera tetap menuju destinasi.

Bagi orang aerodinamis, kalau angin melawan wahana atau headwind, itu adalah kesempatan untuk meningkatkan gaya angkat, untuk lepas landas atau untuk terbang lebih tinggi lagi.

Semoga keluarga Hikari merupakan keluarga yang selalu dapat menyikapi perubahan dengan baik. Karena katanya, mereka yang bertahan bukanlah mereka yang paling cerdas, paling kuat, paling cantik atau paling tampan, melainkan mereka yang memiliki watak (karakter), mereka yang dapat menyikapi perubahan dengan baik.

Keluarga Hikari akan selalu semangat, selalu semarak menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran, menyiapkan generasi penerus berwatak mulia dan berpengetahuan dasar yang kokoh, generasi yang bisa menyikapi perubahan dengan baik.

10 hari menuju Ulang Tahun RI ke 74, SDM Unggul Indonesia Maju.

Belajar dari TK Fuji di Kota Tachikawa

Beberapa waktu yang lalu saya dan beberapa teman mengunjungi Taman Kanak-kanak Fuji di Kota Tachikawa.

Yang bisa kita pelajari dari Taman Kanak-kanak Fuji di Kota Tachikawa:

RUANG TERBUKA (OPEN SPACE)
Tidak ada dinding pemisah antar kelas. Tidak ada batasan akustik sama sekali . Bila kita menempatkan anak-anak di ruangan yang tenang, beberapa dari mereka akan mulai merasa gelisah. Di TK ini, tidak ada alasan untuk merasa gelisah, karena tidak ada sekat sama sekali. TK ini sangat mempertimbangkan faktor kebisingan. Seperti kita ketahui bahwa anak tidur lebih baik justru saat suasana bising. Mereka tidak bisa tidur di ruangan yang sunyi sekali. Dan di TK ini, anak-anak menunjukkan konsentrasi yang luar biasa di dalam kelas. Dan kita tahu bahwa nenek moyang kita tumbuh di dalam hutan yang penuh kebisingan penuh berbagai suara alam. Mereka butuh suara. Dan ketahuilah, bahwa kita biasa berbicara dengan teman kita di sebuah mall yang bising. Kita tidak seharusnya berada dalam keadaan sunyi.

TIDAK BAIK TERLALU MENGENDALIKAN (OVER-CONTROLLING IS NOT GOOD)
Saat ini kita berusaha untuk mengendalikan semua keadaan. Di TK ini semuanya dalam keadaan terbuka. Kita lebih ke melatih anak-anak untuk bisa beradaptasi dengan berbagai keadaan yang lebih terbuka. Karena kita tidak bisa mengendalikan semua keadaan untuk sesuai dengan kita. Kita lah yang perlu menyesuaikan dengan keadaan karena kita adalah mahluk yang kuat. Kita bisa pergi bermain ski pada musim dingin ketika suhu -20 Derajat. Di musim panas kita bisa pergi berenang, suhu pasir biasanya bisa mencapai 50 Derajat. Dan juga kita juga perlu sadar bahwa kita sebenarnya tahan air. Kita tidak meleleh saat kehujanan. Artinya anak-anak seharusnya dibiarkan bermain di luar ruangan dalam berbagai keadaan. Seperti itulah seharusnya kita memperlakukan mereka.

TIDAK BAIK TERLALU MELINDUNGI (OVER-PROTECTING IS NOT GOOD)
Jaman sekarang, anak-anak membutuhkan sedikit kadar bahaya untuk dihadapi. Dalam keadaan seperti itu, mereka akan belajar membantu satu sama lain. Kita sudah kehilangan jenis masyarakat seperti ini saat ini. Intinya jangan terlalu jangan terlalu melindungi mereka, sekali-kali mereka juga perlu untuk terjatuh. Mereka juga perlu untuk merasakan terluka. Dan dari situlah mereka belajar tentang bagaimana hidup di dunia ini.

BIARKAN MEREKA BEBAS (LET THEM FREE)
Anak-anak di TK ini mampu berjalan/berlari sejauh 6 000 meter. Tapi bukan ini bagian yang paling mengejutkan. Rata-rata, anak-anak di TK ini berjalan/berlari sejauh 4 000 meter setiap hari. Dan anak-anak ini memiliki kemampuan atletis yang sangat tinggi dibandingkan dengan TK yang lain pada umumnya. Kepala Taman Kanak-kanak ini berkata,”Kami tidak melatih mereka. Kami hanya biarkan mereka bebas.” Mereka, anak-anak itu memiliki potensi yang luar biasa. Hanya, tanpa disadari kita sering kali membatasi potensi mereka itu.

Nature Does not Hurry

There are many things in life that need more time than other things else. Time to grow, time to mature and time to get wise.

Nature does not hurry, yet everything is accomplished.

LAO TZU

From time to time, we need to learn the art of patience, to let life follow its natural course. Forcing or resisting the natural flow of things will cause internal incoherence and will invite external interference. The unnecessary pain then will inevitably come to us and may suffer the people we love.

May patience always be with us and the true force as well.

Jack Ma Chart about Life between 20 and 60

Jack Ma chart about life between 20 and 60:

Before you turn 20 years old, be a good student
… just get some experience.

Before you turn 30 years old, follow somebody
Go to a small company. Normally, in a big company, it is good to learn processing; you are part of a big machine. But when you go to a small company, you learn the passion, you learn the dreams. You learn to do a lot of things at one time. So before 30 years old, it’s not which company you go to, it’s which boss you follow. A good boss teaches you differently.

Between 30 and 40 years old
You need to think clearly whether you want to work for yourself, if you really want to be an entrepreneur.

When you’re between 40 and 50 years old
You must do all the things that you are good at. Don’t try to jump into a new area, it’s too late. You may be successful, but the rate of dying is too big. So when you’re between the ages of 40 and 50, think about how you can focus on things that you are good at.

But when you are 50 to 60 years old
Work for the young people. Because young people can do better than you. So rely on them, invest in them, and make sure they’re good.

When you are over 60 years old
Spend time on yourself. On the beach, sunshine, it’s too late for you to change.

This is my advice to young people: 25 years old, make enough mistakes. Don’t worry! You fall, you stand up, you fall…enjoy it! You’re 25 years old, enjoy the show!.

佐久間象山の人生チャート

人は、生まれてから最初の十年は、己のことだけ考えればよい。

そして次の十年は、家族のことを考える。
二十になってからの十年は、生まれた故郷のことを考える。
そして三十になったら、日本のことを考える。
四十になったら、世界のことを考える。

Peta Jalan Hidup Sakuma Shōzan
Hidup itu, 10 tahun pertama sejak lahir pikir diri sendiri.
10 tahun berikutnya pikir tentang keluarga.
10 tahun sejak usia 20 pikir tentang tanah kelahiran (kampung halaman).
Kalau sudah menginjak 30 tahun pikir masalah tanah air (negara).
Dan kalau sudah 40 tahun, pikir tentang dunia.

Great Nations Do Great Things

What makes a nation great? Is it economic wealth? Or military super power across sea, land and air? Or is it the number of Nobel Peace Prizes or Olympic medals?

A nation is nothing more than a collection of people living within a set of physical borders. We can measure the greatness of a nation by seeing the people live there.

What makes people great then? Well, I think it’s not how much money they can make, nor the number of cars or houses they own. But what contributions they have made to their community, to their society. It’s about their generosity. It’s about their ideas, how they changed the world with them, how they made a difference, how they have made profits for the human race, for the next generation.

Have we even tried to make any differences? How hard did we try?

Our ancestors have made many great architecture monuments which we are — as their descendants– able to make many benefits from them. Tourism and its domino effect such as transportation, food industries, lodging, you name it.

Now, what our generation has made that we can offer to our children? Depletion of many natural resources? air and water pollution? Foreign debts?

Ya Rabb, lead us to keep our integrity intact so we can make a difference, make a meaningful contribution and elevate human society to a higher level of coexistence and civilization.

Pengetahuan itu Penting, Tetapi Watak Lebih Penting

Kennis is macht, karakter is meer.
(Knowledge is power, but character is more.)

anonymous

Orang orang bestari dahulu memberikan nasehat:

Berpikirlah yang baik, karena itu akan menjadi perkataanmu.
Berkatalah yang baik, karena itu akan menjadi perilakumu.
Berperilakulah yang baik, karena itu akan menjadi kebiasaanmu.
Peliharalah kebiasaan yang baik, karena itu akan menjadi watakmu.
Milikilah watak yang baik, karena itu membentuk nasibmu.

Untaian kalimat di atas sering diatributkan sebagai perkataan Ralph Waldo Emerson, Lao Tzu, Frank Outlaw, Gautama Buddha, atau Ayahnya Margaret Thatcher. Terlepas siapa yang mengatakan pertama kali sebenarnya. Perkataan itu sangat baik, dan layak untuk dibagikan. Seorang ahli falsafah Yunani, Heraclitus, sebelumnya telah merangkum tulisan di atas secara sederhana, “man’s character is his fate,” (watak seseorang itu, itulah nasibnya).

Watak, atau karakter akan membentuk nasib seseorang secara individu, dan watak pulalah yang menentukan nasib suatu kaum atau masyarakat.

Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka.

QS:13:11

Apabila kita lirik sedikit sejarah, kita tahu begitu banyak peradaban super hebat pada zaman baheula. Mereka bangkit dan runtuh, mereka tidak pernah abadi. Kebanyakan mereka runtuh bukan karena serangan lawan atau ditaklukan musuh secara tiba-tiba. Mereka runtuh karena kerusakan moral dari dalam, perlahan, senyap dan mungkin kurang disadari. Dari perspektif kebangsaan, seorang negarawan Romawi Kuno, Cicero, mengatakan bahwa “within the character of the citizen, lies the welfare of nations,” (Dalam lingkup watak warganegaranya, terletak kesejahteraan suatu bangsa).

Lalu apa watak itu? Watak adalah satu set qualitas sifat kita, seperti kejujuran, kerendahan hati, keberanian, tanggung jawab, keramahan, determinasi ketika menghadapi kesukaran. Watak di sini adalah moral, akhlak, budi pekerti. Nilai-nilai inilah yang perlu ditanamkan pada anak-anak kita, perlu diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bukan nilai A atau 100 untuk suatu bidang ilmu. Karena wataklah kelak yang akan membuat setiap individu mampu memanfaatkan potensinya, mampu mengatasi kekurangannya dan mampu bertahan dalam setiap perubahan.

Dan ingatlah selalu, bahwa Tuhan menurunkan Rosul di setiap jamannya dahulu lebih ke membangun watak dan menyempurnakan akhlak, daripada membangun kepintaran atau yang lainnya. Nabi Musa AS dengan integritasnya, Nabi Ibrahim As dengan komitmennya, Nabi Isa AS dengan kasih sayang dan empatinya, Nabi Muhammad SAW dengan kejujuran dan integritasnya dst.

Berbagai Dunia

Ideal manis yang makin menipis.
Krisis sadis yang makin mengikis.
Tak ada pelipur tangis.
Tak ada penawar sakit.

Yang terlihat di panggung
Yang terjadi di balik panggung
Terpisah tirai tuli bisu
Hanyutkan jiwa semakin ragu

Kebaikan yang ditampil-samarkan
Jahanam yang dilaku-lampahkan
Dalam rapi kerangka tertata
Seolah lupa raga ini fana

Kemuliaan kekal Tuhan tawarkan
Bukan untuk rayu hina sesaat
Wahai jiwa yang dulu tenang
Kembalilah untuk diridhai dan ridha

(coretan ini mengalir setelah mendengar cerita tentang “dunia” dari sahabat terbaikku Faisal)

Hidup Itu Seharusnya Indah, Begitu Juga Berbagai Ujian

Selamat menempuh UAS kembali anak-anak dan Ibu/Bapak Guru Hikari.

Ujian akhir semester atau ujian apapun kita tempuh untuk mengetahui kesalahan atau kekurangan kita, mengakuinya dan kemudian memperbaikinya. Ujian itu adalah kesempatan kita mengevaluasi diri. Mari kita siapkan diri sebaik-baiknya, tetap tenang dan percaya diri. Jangan takut salah, karena orang yang tidak pernah salah hanyalah orang yang tidak pernah berbuat apa-apa dalam hidupnya. Mereka yang berhasil atau sukses itu bukan mereka yang tidak pernah gagal, tetapi mereka yang selalu  tetap semangat bangkit kembali pada saat mereka jatuh atau gagal.

Ujian kita tempuh untuk bersaing (compete), tetapi bukan dengan orang lain. Kita bersaing dengan diri kita sendiri. Ujian kita tempuh bukan untuk meraih peringkat yang lebih dari orang lain atau mengalahkan orang lain. Ujian kita tempuh untuk melatih apakah kita sudah melakukan yang terbaik untuk diri kita?

Tidak perlu gusar atau stress setiap kali menghadapi ujian akhir semester, karena hidup tidak terbagi-bagi ke dalam semester. Hidup terlalu indah kalau harus dibagi-bagi persemester. Tetapi kita juga tidak boleh meremehkannya. Kita tidak boleh menyepelekan apapun dalam hidup kita. Setiap hal kecil yang kita jumpai, setiap detik setiap momen yang kita miliki adalah kesempatan kita untuk berusaha yang terbaik untuk meraih semua mimpi dan kebahagian kita. Mari kita paham-amalkan hikmah-hikmah berikut:

Dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji zarah, niscaya ia akan menerima pahalanya (ganjarannya, upahnya)

q.s. az-zalzalah:7

GREAT THINGS are done by a series of small things brought together

vincent van gogh

The man who moves a mountain begins by carrying small stones

confucius

Sekali lagi, selamat menempuh UAS anak-anak Hikari. You can be the greatest, you can be the best! Ingat, berhasil bukan berarti akhir dan gagal bukan berarti fatal. There’s always room for us to improve our success. And there’s always a second chance for us to fix our mistakes.

Salam semangat anak Hikari

Cerdas ceria anak Hikari

Berdoa untuk Kemudahan? atau Kekuatan?

April telah tiba. Tahun 2015 pun sudah berlari ¼ perjalanan lebih. Ada yang galau dengan UN, ada yang ragu dengan jabatan baru. Tapi itulah mungkin pahit manis kehidupan. Kita harus mengetahui yang pahit, agar kita bisa mensyukuri yang manis.

Hidup tidak lebih dari serangkaian ujian, seorang sahabat mengingatkan. Dari ujian yang satu ke ujian berikutnya, begitulah kita meniti hari merajut waktu. Hasilnya mungkin kita bisa nikmati semasa hidup kita, mungkin juga dirapel di “sana” setelah kita meninggalkan dunia fana ini. Hidup ini boleh dibilang lebih banyak pahitnya dari pada manisnya. Simaklah kisah para rosul dan sahabat-sahabatnya, atau para kreator di jamannya, mulai dari komposer sampai ke pelukis ternama, dari ilmuwan hingga ke inventor. Jasa jasa mereka itu kadang baru disyukuri oleh yang lain setelah mereka tiada. “Life is unfair, get used to it,” bahkan seorang Bill Gates pun mengatakan demikian.

Ketika kita menghadapi masa-masa sulit menghadapi ujian atau suatu urusan. Seringkali kita memohon dukungan doa kepada kerabat kepada sahabat. Banyak di antara kita memohon doa untuk kemudahan. “Mohon doanya diberi kemudahan,” atau “Mohon doanya agar urusannya lancar,”. Kita kadang lupa kisah-kisah di atas tadi. Bahwa hasil, prestasi, kebahagian atau pencapaian apapun yang berarti yang bernilai itu seringkali berada di tempat yang sulit dijangkau yang harus ditebus dengan berbagai pengorbanan termasuk fisik, mental, tak jarang juga air mata harus berderai bahkan darah harus menetes.

Ketika saya menghadapi masa-masa sulit atau menempuh berbagai ujian, saya selalu memohon doa keluarga dan sahabat untuk saya—bukan untuk urusan atau ujiannya—agar saya diberi kekuatan menghadapi berbagai kesulitan. Sehingga saya menjadi lebih kuat lebih tangguh pada setiap akhir ujian itu.

Begitu juga ketika seseorang meminta saya doa seperti tadi. Saya selalu katakan, “Saya doakan engkau memiliki kekuatan sehingga bisa menghadapi mengatasi ujian itu, walapun sebagaimana sulitnya”. Saya tidak berdoa untuk kemudahan ujiannya atau urusannya. Saya lebih mendoakan orang yang menghadapi ujian itu.

Saya percaya bukan kemudahan yang menempa kita menjadi individu yang kuat sehingga bisa meraih suatu pencapaian yang bernilai, tetapi justru berbagai kesulitan dalam setiap ujian, seperti halnya besi ditempa menjadi baja yang kuat, itu perlu pukulan yang cukup keras dan panas.

Page 2 of 3

SEMARAK FOUNDATION