Author: Fadilah Hasim Page 1 of 3

Implementasi Nilai-nilai Keselarasan dan Keadilan dalam Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

PENDAHULUAN

Binatang lahir ke dunia dilengkapi berbagai “senjata” untuk mempertahankan hidupnya. Ada yang diberi taring kuat seperti singa atau harimau, sehingga kalau lapar mereka cukup berburu mangsa. Lalu ada yang diberi sayap yang lebar dan cakar yang tajam seperti burung elang, sehingga kalau lapar mereka cukup terbang dan menyambar mangsanya dari atas. Ada juga yang dibekali otot-otot yang kuat seperti kuda dan banteng Afrika yang bisa berjalan berlari berpindah ribuan kilometer untuk mencari rumput segar sebagai makanannya.

Manusia lahir tak berdaya, tak berbekal senjata-senjata itu. Manusia
hanya dibekali otak untuk bernalar, berpikir dan menciptakan sesuatu untuk
kehidupan kita. Senjata yang dimiliki binatang sangat statis, tetapi fungsi nalar manusia untuk mempertahankan hidup sangat dinamis dan bisa ditingkatkan setinggi-tingginya melalui pendidikan dan kemudian ilmu pengatahuan.

Dulu manusia berburu, dengan nalar dan proses berpikirnya mereka
menciptakan senjata dari batu untuk berburu. Cara hidup seperti ini disebut
Masyarakat Berburu 1.0. Ilmu pengetahuan mulai berkembang, manusia
mengubah cara hidupnya dari berburu menjadi bertani, lahirlah Masyarakat
Agraris 2.0. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) kemudian berkembang
lebih maju menghasilkan mesin uap dan lain-lain, lahirlah Masyarakat Industri 3.0. Iptek berkembang terus melahirkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang mempermudah banyak pekerjaan manusia, lahirlah Masyarakat Informasi 4.0. Kini, teknologi seperti Internet of Things, Artificial Intelligence, Big Data dan Robot mulai memasuki setiap aspek kehidupan masyarakat dan akan mengubah cara hidup manusia. Peradaban manusia sedang menjelang satu perubahan lagi, i.e., Masyarakat Informasi 4.0 ke Masyarakat 5.01[1].

Evolusi masyarakat 1.0 s.d. 5.0 ini merupakan perkembangan peradaban, perjalanan akumulasi ilmu pengetahuan, perjalanan perkembangan nalar manusia. Dari kebutuhan sederhana, seperti senjata berburu di era Masyarakat 1.0 hingga ke superkomputer di era Masyarakat 5.0, semua merupakan hasil proses berpikir, merupakan hasil dari fungsi nalar
dan daya cipta (kreativitas) manusia. Fungsi nalar manusia ini tidak hanya
menghasilkan produk-produk fisik untuk kebutuhan jasmaninya saja, fungsi
nalar juga telah menghasilkan berbagai produk abstraksi seperti ideologi,
filosofi, atau keyakinan yang juga diperlukan manusia untuk hidupnya.

Fungsi nalar ditumbuh-kembang-buahkan melalui pendidikan.
Pendidikan sangat penting untuk perkembangan peradaban manusia, bahkan mungkin yang terpenting kalau kita melihat sejarah bagaimana negara-negara lain menjadi negara maju dan memimpin dunia di berbagai bidang. Para Founding Fathers Republik ini memahami betul hal ini, oleh karena itu menyatakan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu dari visi pendirian Negara ini di antara memajukan kesejahteraan umum dan melaksanakan ketertiban dunia[2]. Dan kita perlu bersyukur bahwa pemimpin-pemimpin kita sekarang telah mencanangkan bahwa
pembangunan manusia dan penguasaan iptek ini sebagai pilar pertama pada
Visi Indonesia Emas 2045[3].

Cerita pendidikan di Republik ini sejak berdiri hingga sekarang belum
sampai pada sebuah episode yang menggembirakan. Berbagai masalah
mengemuka seperti isu mengenai watak atau budi pekerti, nilai literasi, sains dan matematika kita dibanding dengan negara lain, sarana dan prasarana yang masih terbatas, pemerataan kesempatan dan lain-lain.

Esai ini mencoba membahas mengenai implementasi nilai-nilai
keselarasan dan keadilan yang terdapat dalam Pancasila sebagai falsafah
bangsa dan ideologi negara dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

PEMBAHASAN

Wajah pendidikan Indonesia belum memperlihatkan wajah ceria dan menggembirakan menuju kehidupan bangsa yang cerdas sesuai dengan nilai-nilai Pancasila—sebagai falsafah dan ideologi yang menjadi tuntunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Beberapa kondisi pendidikan saat ini yang perlu perhatian dan perbaikan adalah sebagai berikut:

[Sumber: https://akcdn.detik.net.id/community/media/visual/2018/08/07/5318f0a8-f238-4f0e-a23e-aa8831d3ba9d_169.jpeg]
  • Watak atau karakter: Nilai-nilai budi pekerti (watak mulia) yang tertanam masih terlihat kurang. Padahal ini paling penting, sebagaimana pepatah mengatakan, “Kennis is macht, Karakter is meer.” (Knowledge is power, but character is more). Banyak pelajar kita yang melakukan tawuran dan berbagai kekerasan hingga mengganggu ketertiban umum[4]. Masih tingginya tingkat korupsi di Indonesia merupakan salah satu akibat jangka panjang dari pendidikan moral yang kurang berhasil. Pemberantasan korupsi di Indonesia tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Pada tahun 2010 Indonesia menduduki urutan ke 110 dari 180 negara dengan skor 28[5], dan pada tahun 2019 menduduki urutan ke 85 dengan skor 40/100[6].
  • Kualitas pendidikan: The Programme for International Student Assessment (PISA) adalah survey 3 tahunan terhadap siswa usia 15 tahun untuk mengkaji tingkat penguasaan pengetahuan kunci (key knowledge) dan keterampilan dasar (essential skill) yang diperlukan para siswa untuk dapat berpartisipasi penuh dalam masyarakat. Hasil program ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia untuk berpartisipasi penuh dalam masyarakat masih kurang[7] sebagai berikut:
    • Literasi rendah: Kemampuan baca siswa Indonesia menunjukkan nilai 371 di bawah nilai rata-rata negara-negara OECD, 487.
    • Matematika rendah: Kemampuan Matematika siswa Indonesia dengan nilai 379 di bawah nilai rata-rata negara-negara OECD 489.
    • Sains rendah: Kemampuan baca siswa Indonesia dengan nilai 396 di bawah nilai rata-rata negara-negara OECD, 489.
    • secara rata-rata Indonesia berada diperingkat ke 72 dari 77 negara.
Kecenderungan kemampuan siswa Indonesia dalam membaca, matematika dan sains.
  • Memicu stress: Padatnya jadwal sesuai dengan kurikulum membuat siswa malah merasa tertekan bahkan alami stres[8]. Nuansa pendidikan sekarang masih merupakan warisan revolusi industri 2.0 yang memaksa manusia menjadi operator pabrik dan tidak konstruktif.
  • Pemerataan: Disparitas yang sangat curam baik dalam mutu proses pembelajaran, mutu guru maupun sarana prasarana merupakan masalah besar dalam dunia pendidikan di Indonesia, antara kondisi pendidikan di pusat dan di daerah, antara di sekolah unggulan dan di sekolah biasa, dan lain-lain.
  • Sarana dan Prasarana: Masih jauh dari memadai untuk tumbuh kembang anak baik jiwa maupun raganya. Pepatah bahwa ”di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat” masih sebatas jargon, belum diterapkan di sekolah-sekolah dasar di mana anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan yang cepat. Misalnya, kita mengaku negara maritim, tetapi banyak anak indonesia yang tidak bisa berenang, karena akses ke kolam renang bukanlah hal bisa dikatakan terjangkau.

Penutup

Dari latar belakang sebagaimana dibahas di atas, beberapa simpulan dapat ditarik sebagai berikut di bawah ini. Adapun simpulan ini berupa gagasan sebagai salah satu dari sekian alternatif solusi dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan pendidikan sebagaimana diuraikan di atas.

  1. Pendidikan Watak (Character Education) harus diperkuat. Watak lebih penting dari Ilmu. Dan hal ini merupakan cita-cita moral Pancasila baik dilihat dari dimensi teologis/religius, dimensi etis maupun dimensi integral-integratif. Pancasila mengingikan seluruh warga negara Indonesia memiliki watak mulia yang terbebas dari dominasi kebendaan, memiliki harkat dan martabat, bertanggung jawab dan berjuang untuk kemanusiaan dan keadilan di dunia[2]. Nilai-nilai keselarasan antara hakekat dan materi, antara individu dan sosial harus ditanamkan sejak dini dalam kurikulum sekolah.
    Dari perspektif kebangsaan, seorang negarawan Romawi Kuno, Cicero[9], mengatakan bahwa “within the character of the citizen, lies the welfare of nations,”. Lalu apa watak itu? Watak adalah satu set qualitas sifat kita, seperti kejujuran, kerendahan hati, keberanian, tanggung jawab, keramahan, determinasi ketika menghadapi kesukaran. Watak di sini adalah moral, atau budi pekerti yang didasari nilai-nilai religius, kekeluargaan, keselarasan, kerakyatan dan keadilan sebagaimana yang diamanatkan Pancasila.
    Nilai-nilai Pancasila tersebut perlu ditanamkan pada anak-anak kita sejak dini secara terstruktur dan berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Presiden Amerika ke 16, Abraham Lincoln[10] pernah mengatakan bahwa, “The philosophy of the classroom in one generation will be the philosophy of government in the next.” Pembangunan watak harus dimulai sejak dini, karena hasil penelitian menunjukkan bahwa personality, yang menjadi inti watak (character core) itu rata-rata terbentuk sejak kecil[11] dan hampir tidak berubah selama beberapa dekade sampai dia dewasa kecuali ada pengalaman traumatik.
  2. Penyederhanaan mata pelajaran perlu dilakukan karena mata pelajaran sekarang itu terlalu banyak, dan masih kental bernuansa revolusi industri 2.0 di mana orang-orang dididik untuk memasok kebutuhan pekerja industri yang terkotak-kotak. Padahal otak manusia tidak dikotak-kotak seperti mata pelajaran yang ada sekarang. Anak-anak menjadi stress sejak dini. Dan ini tidak baik untuk kegiatan pembelajaran yang seharusnya menyenangkan dan produktif. Accelerated Learning[12] yang melibatkan keselarasan akal and badan, berbasis kreasi dan kolaborasi, berbasis multi-tasking dan learn by doing, dapat diadopsi dan diadaptasi dengan nilai-nilai keselarasan Pancasila untuk sistem pembelajaran di Indonesia.
  3. Peningkatan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana. Anak adalah titipan dan anugerah Tuhan sebagaimana nilai-nilai religius Pancasila. Mereka adalah pemimpin masa depan. Sarana prasarana untuk tumbuh kembang mereka, mulai dari sekolah sampai akses menuju sekolah harus disiapkan sebaik-baiknya sebagai tanda syukur dan niat kita untuk membangun masa depan meraih-wujudkan cita-cita negara, yaitu Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, adil dan makmur.
  4. Pemerataan. Penulis dan beberapa rekan telah mencoba membangun satu sekolah dasar sebagai implementasi nilai-nilai keadilan Pancasila dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Sekolah ini diberi nama Sekolah HikARi (Hikmah Anak negeRI), suatu sekolah kampung berwawasan nusantara, menjunjung tinggi kearifan lokal dan sadar akan perkembangan global. Sekolah ramah anak dan menyenangkan. Sekolah Hikari hadir untuk anak-anak Negeri meniti kemandirian, memupuk kemampuan bekerja-sama (Persatuan Indonesia). Sekolah Hikari bukan sekolah eksklusif Islam Terpadu atau sekolah eksklusif Katolik. Anak semua etnis, semua agama dapat bersekolah di sini. Anak Yatim bebas biaya, yang kurang mampu bisa membayar dengan kotoran ternak, sampah daur ulang atau bekerja dua hari di sekolah dalam sebulan, yang kaya membayar dengan biaya yang reasonable dan terjangkau. Sekolah ini mengimplementasikan nilai-nilai keadilan sosial untuk masyarakat.

Daftar Pustaka

  1. Cabinet Office of Japan (Kantor Kabinet Jepang). 2020. Society 5.0
    https://www8.cao.go.jp/cstp/english/society5_0/index.html
  2. Lemhannas RI. 2020. Bidang Studi Empat Konsensu Dasar Bangsa. Sub Bidang Studi Pancasila. Jakarta.
  3. Kementererian PPN/BAPPENAS. 2019. Visi Indonesia 2045: Manfaatkan Bonus Demografi Demi Wujudkan Indonesia Maju. https://www.bappenas.go.id/id/berita-dan-siaran-pers/jakarta-menterippnkepala-bappenas-bambang-brodjonegoro-berbicara-mengenaipentingnya-penyelarasan-visi-indonesia-2045-dengan-vi/. diakses 09.04.2019.
  4. DetikNews. 2020. Viral Sekelompok Pelajar SMA di Depok Tawuran hingga Masuk Mal.
    https://news.detik.com/berita/d-4857325/viral-sekelompokpelajar-sma-di-depok-tawuran-hingga-masuk-mal/2. diakses 27.05.2020
  5. Transparency International. 2010. Corruption Perception Index 2010. Berlin.
  6. Transparency International. 2020. Corruption Perception Index 2019. Berlin
  7. OECD. 2018. PROGRAMME FOR INTERNATIONAL STUDENT ASSESSMENT (PISA) RESULT FORM PISA 2018. Country Note Indonesia.
  8. Pikiran Rakyat. 2019. Sistem Pendidikan Indonesia Rentan Picu Stres, Mendikbud Didesak Lakukan Revolusi. https://www.pikiranrakyat.com/pendidikan/pr-01324449/sistem-pendidikan-indonesiarentan-picu-stres-mendikbud-didesak-lakukan-revolusi. 06.12.2019. diakses 26.05.2020.
  9. Daily Herald. 2013. “What is Character Education and why do we need it?” LIFE LEARNING.
    https://www.heraldextra.com/studentnews/health/what-is-charactereducation-and-why-do-we-need-it/article_1b6b9e14-157c-11e3-aeb0-001a4bcf887a.html. 04.09.2013. diakses 27.05.2020
  10. Hanna, P.R. 1902. Assuring Quality for The Social Studies in Our Schools. Hoover Press Publication 350. Standford, California.
  11. Nave, C.S. 2010. “On the Contextual Independence of Personality: Teachers’ Assessments Predict Directly Observed Behavior after Four Decades.” Soc. Psychol. Personal Sci. 3 (1). 1-9.
  12. Rose, C. and M.J. Nicholll. 1998. Accelerated Learning for the 21st Century. Dell Publishing. New York.

Konspirasi Alam Semesta

Kata Om Paulo, jika kamu menginginkan sesuatu, alam semesta akan berkonspirasi membantumu untuk meraihnya. Kalau kamu belum merasakan bantuan itu, berarti masih ada keraguan dalam kemauanmu.
Peraihan atau pencapaian sesuatu kadang langsung dan mudah. Tapi lebih sering harus berputar jauh, lama, sulit, melelahkan, mengundang kesal dan amarah, bahkan keputusasaan.


Mimpi adalah target yang selalu bergerak. Kamu dekati, mungkin dia akan menjauh. Kamu coba jauhi, dia akan tetap bersemayam di hatimu. Dengarkan kata hatimu, dan kejarlah mimpi itu. Mimpi itu ada, dan itu milikmu.

The Best of All Possible Worlds

Kata Kakek Voltaire, ini adalah yang terbaik dari semua kemungkinan dunia. Kita harus selalu optimis, tegar menjaga bahwa setiap hal adalah yang terbaik, walaupun di awal (mungkin) kita menganggapnya itu yang terburuk.

Saya jadi ingat dulu. Pulang dari Negeri Sakura selesai sekolah, merelakan tawaran izin tinggal tetap, apartemen yang nyaman, gaji yang tinggi dan berbagai kesempatan yang enjoy-able. Saya memilih menunaikan muamalat saya dengan Negara yang telah menyekolahkan saya.

Pulang ke tanah air, kos di Ibukota di kawasan seberang kantor, di sebuah bilik berdinding triplek berjendela ram kawat kandang ayam di lantai 2. Kamar mandi ada di lantai 1, hanya toilet jongkok dan 1 ember berukuran sedang. Setiap pagi pergi dan malam pulang kerja melewati gang sempit diapit comberan bau di kiri dan di kanan. Kalau kebetulan hari hujan dan gang itu banjir, saya kadang harus merayap seperti seorang spideman, melebarkan kedua kaki dan tangan saya berjalan di dinding-dinding rumah orang yang berada di kiri dan kanan gang sempit itu. Comberan bisa saya hindari namun baunya apa daya.

Saya sempat mengutuk. Pilihan buruk apa yang telah saya ambil, menolak tawaran menggiurkan setelah sekolah bertahun dan meraih gelar tinggi. Namun kemudian saya sadar bahwa itu adalah kemurahan Tuhan, yang menyelamatkan saya dari duri, beling atau paku berkarat yang mungkin saya injak di jalan lain yang bagus dan bebas bau. Itu adalah kemurahan Tuhan yang merelakan saya terhindar dari ujian yang mungkin tak sanggup saya pikul.

Saya mempelajari bahwa semua yang terjadi adalah anugerah, kalau saja kita mampu mensyukurinya. Dan semua yang terjadi mungkin kutukan kalau kita hanya menyerapahinya.

Flow Like a River

Having a dream is like following a river current. We may hit a stone wall and get stuck in a moment like we can’t get out of it. The stuck we get is there for a reason. It may let us have a break to reflect on ourselves or to have ourselves around to recover our integrity, so we can continue this journey of our life –like a river flows surely to the sea.

Lagi-lagi tentang Perubahan

Perubahan adalah salah satu hukum dasar alam. Tidak ada yang tetap, kecuali perubahan itu sendiri. Dampak perubahan berlainan kepada setiap individu atau institusi, bisa favorable, adem dan menyenangkan, bisa juga overheating, gerah dan bahkan mungkin detrimental.

Fokus pada dunia persaingan ekonomi, perubahan di sana sangat hebat, bahkan brutal. Tidak ada kata “belas kasihan” dalam kamus persaingan ekonomi. Semua tentang rantai makanan, rantai pertumbuhan. Yang bisa menyesuaikan diri dengan perubahan akan tumbuh, dan yang tidak, billahi taufiq wal hidayah, wassalaam.

According to Darwin’s Origin of Species, it is not the most intellectual of the species that survives; it is not the strongest that survives, but the species that survives is the one that is able best to adapt and adjust to the changing environment in which it finds itself.

Leon C. Megginson, ‘Lessons from Europe for American Business’, Southwestern Social Science Quarterly (1963) 44(1): 3-13, at p. 4.

Dulu kerajaan-kerajan ekonomi dikuasai perusahaan migas, sekarang berdasarkan nilai pasar (market value), dunia ekonomi dikuasai perusahaan teknologi informasi. Dan para penguasa ini bersaing sangat dahsyat. Dulu Yahoo Messenger menempati “hati” banyak orang, sekarang semua “lari” bersama WhatsApp. Dulu Nokia dalam genggaman tangan banyak orang, beberapa tahun lalu CEOnya menangis, “We did not do anything wrong, but somehow, we lost.” sesaat sebelum mobile and device divisionnya Nokia ditelan Microsoft.


Nothing has ever built to last. One falls another rises. Kalau perubahan adalah hukum dasar alam, maka adaptasi adalah hukum dasar hidup. Yang bisa beradaptasi dan mengelola perubahan dengan baik dia akan bertahan dan tumbuh. Perubahan sering kali tidak diharapkan, tetapi tidak juga untuk dikeluhkan. Perubahan sering kali diibaratkan angin atau gelombang. Perubahan itu untuk dikelola. Seperti seorang pelaut yang selalu mengatur layar perahunya menyesuaikan dengan angin, atau peselancar yang memainkan papannya di atas gelombang. Perubahan harus dikelola agar kita tetap menuju destinasi kita atau agar kita tetap bisa menari bahagia bersama gelombang kehidupan kita.

SEMESTA PERUBAHAN

Kita hidup dalam semesta perubahan. Semuanya berubah, tidak ada yang kekal kecuali perubahan itu sendiri. Panta rhei kata Heraclitus, ―semuanya mengalir.

Perubahan sering kali diibaratkan sebagai hembusan angin, ―tidak selalu favorable atau berpihak. Kadang seperti melawan kita. Ketika hembusan angin tidak berpihak: Mereka yang pesimis akan mengeluhkannya. But whining won’t change it, only make it worse. Mereka yang optimis akan berharap angin berubah arah. But wishing won’t make it so. Mereka yang realis akan menyesuaikan layar dengan angin. Mungkin perlahan. Tapi mereka akan upayakan bahtera tetap menuju destinasi.

Bagi orang aerodinamis, kalau angin melawan wahana atau headwind, itu adalah kesempatan untuk meningkatkan gaya angkat, untuk lepas landas atau untuk terbang lebih tinggi lagi.

Semoga keluarga Hikari merupakan keluarga yang selalu dapat menyikapi perubahan dengan baik. Karena katanya, mereka yang bertahan bukanlah mereka yang paling cerdas, paling kuat, paling cantik atau paling tampan, melainkan mereka yang memiliki watak (karakter), mereka yang dapat menyikapi perubahan dengan baik.

Keluarga Hikari akan selalu semangat, selalu semarak menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran, menyiapkan generasi penerus berwatak mulia dan berpengetahuan dasar yang kokoh, generasi yang bisa menyikapi perubahan dengan baik.

10 hari menuju Ulang Tahun RI ke 74, SDM Unggul Indonesia Maju.

Belajar dari TK Fuji di Kota Tachikawa

Beberapa waktu yang lalu saya dan beberapa teman mengunjungi Taman Kanak-kanak Fuji di Kota Tachikawa.

Yang bisa kita pelajari dari Taman Kanak-kanak Fuji di Kota Tachikawa:

RUANG TERBUKA (OPEN SPACE)
Tidak ada dinding pemisah antar kelas. Tidak ada batasan akustik sama sekali . Bila kita menempatkan anak-anak di ruangan yang tenang, beberapa dari mereka akan mulai merasa gelisah. Di TK ini, tidak ada alasan untuk merasa gelisah, karena tidak ada sekat sama sekali. TK ini sangat mempertimbangkan faktor kebisingan. Seperti kita ketahui bahwa anak tidur lebih baik justru saat suasana bising. Mereka tidak bisa tidur di ruangan yang sunyi sekali. Dan di TK ini, anak-anak menunjukkan konsentrasi yang luar biasa di dalam kelas. Dan kita tahu bahwa nenek moyang kita tumbuh di dalam hutan yang penuh kebisingan penuh berbagai suara alam. Mereka butuh suara. Dan ketahuilah, bahwa kita biasa berbicara dengan teman kita di sebuah mall yang bising. Kita tidak seharusnya berada dalam keadaan sunyi.

TIDAK BAIK TERLALU MENGENDALIKAN (OVER-CONTROLLING IS NOT GOOD)
Saat ini kita berusaha untuk mengendalikan semua keadaan. Di TK ini semuanya dalam keadaan terbuka. Kita lebih ke melatih anak-anak untuk bisa beradaptasi dengan berbagai keadaan yang lebih terbuka. Karena kita tidak bisa mengendalikan semua keadaan untuk sesuai dengan kita. Kita lah yang perlu menyesuaikan dengan keadaan karena kita adalah mahluk yang kuat. Kita bisa pergi bermain ski pada musim dingin ketika suhu -20 Derajat. Di musim panas kita bisa pergi berenang, suhu pasir biasanya bisa mencapai 50 Derajat. Dan juga kita juga perlu sadar bahwa kita sebenarnya tahan air. Kita tidak meleleh saat kehujanan. Artinya anak-anak seharusnya dibiarkan bermain di luar ruangan dalam berbagai keadaan. Seperti itulah seharusnya kita memperlakukan mereka.

TIDAK BAIK TERLALU MELINDUNGI (OVER-PROTECTING IS NOT GOOD)
Jaman sekarang, anak-anak membutuhkan sedikit kadar bahaya untuk dihadapi. Dalam keadaan seperti itu, mereka akan belajar membantu satu sama lain. Kita sudah kehilangan jenis masyarakat seperti ini saat ini. Intinya jangan terlalu jangan terlalu melindungi mereka, sekali-kali mereka juga perlu untuk terjatuh. Mereka juga perlu untuk merasakan terluka. Dan dari situlah mereka belajar tentang bagaimana hidup di dunia ini.

BIARKAN MEREKA BEBAS (LET THEM FREE)
Anak-anak di TK ini mampu berjalan/berlari sejauh 6 000 meter. Tapi bukan ini bagian yang paling mengejutkan. Rata-rata, anak-anak di TK ini berjalan/berlari sejauh 4 000 meter setiap hari. Dan anak-anak ini memiliki kemampuan atletis yang sangat tinggi dibandingkan dengan TK yang lain pada umumnya. Kepala Taman Kanak-kanak ini berkata,”Kami tidak melatih mereka. Kami hanya biarkan mereka bebas.” Mereka, anak-anak itu memiliki potensi yang luar biasa. Hanya, tanpa disadari kita sering kali membatasi potensi mereka itu.

Nature Does not Hurry

There are many things in life that need more time than other things else. Time to grow, time to mature and time to get wise.

Nature does not hurry, yet everything is accomplished.

LAO TZU

From time to time, we need to learn the art of patience, to let life follow its natural course. Forcing or resisting the natural flow of things will cause internal incoherence and will invite external interference. The unnecessary pain then will inevitably come to us and may suffer the people we love.

May patience always be with us and the true force as well.

Jack Ma Chart about Life between 20 and 60

Jack Ma chart about life between 20 and 60:

Before you turn 20 years old, be a good student
… just get some experience.

Before you turn 30 years old, follow somebody
Go to a small company. Normally, in a big company, it is good to learn processing; you are part of a big machine. But when you go to a small company, you learn the passion, you learn the dreams. You learn to do a lot of things at one time. So before 30 years old, it’s not which company you go to, it’s which boss you follow. A good boss teaches you differently.

Between 30 and 40 years old
You need to think clearly whether you want to work for yourself, if you really want to be an entrepreneur.

When you’re between 40 and 50 years old
You must do all the things that you are good at. Don’t try to jump into a new area, it’s too late. You may be successful, but the rate of dying is too big. So when you’re between the ages of 40 and 50, think about how you can focus on things that you are good at.

But when you are 50 to 60 years old
Work for the young people. Because young people can do better than you. So rely on them, invest in them, and make sure they’re good.

When you are over 60 years old
Spend time on yourself. On the beach, sunshine, it’s too late for you to change.

This is my advice to young people: 25 years old, make enough mistakes. Don’t worry! You fall, you stand up, you fall…enjoy it! You’re 25 years old, enjoy the show!.

佐久間象山の人生チャート

人は、生まれてから最初の十年は、己のことだけ考えればよい。

そして次の十年は、家族のことを考える。
二十になってからの十年は、生まれた故郷のことを考える。
そして三十になったら、日本のことを考える。
四十になったら、世界のことを考える。

Peta Jalan Hidup Sakuma Shōzan
Hidup itu, 10 tahun pertama sejak lahir pikir diri sendiri.
10 tahun berikutnya pikir tentang keluarga.
10 tahun sejak usia 20 pikir tentang tanah kelahiran (kampung halaman).
Kalau sudah menginjak 30 tahun pikir masalah tanah air (negara).
Dan kalau sudah 40 tahun, pikir tentang dunia.

Page 1 of 3

SEMARAK FOUNDATION